Biografi Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuthi
Polymath, Mujaddid, dan Realitas Keilmuan Era Mamluk (849 H/1445 M – 911 H/1505 M)
Bagian I: Pendahuluan: Sang Polymath Terakhir Era Mamluk
Pada abad ke-15 Masehi (abad ke-9 Hijriyah), Kairo di bawah pemerintahan Kesultanan Mamluk telah mengukuhkan dirinya sebagai pusat keilmuan Islam Sunni yang tak tertandingi.1 Setelah kejatuhan Baghdad, Kairo menjadi benteng pelestarian dan pengembangan tradisi intelektual, menjadi magnet bagi para ahli Hadis, Fiqh, dan Tafsir. Dalam lanskap akademis yang dinamis inilah lahir seorang figur yang kelak akan mewakili puncak sekaligus penutup dari tradisi ulama polymath (ahli dalam banyak bidang) ensiklopedis era pra-modern: Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
Dikenal sebagai seorang mujtahid (ahli hukum independen)2, mujaddid (pembaharu) abad kesepuluh Hijriyah2, seorang Al-Hafiz dalam ilmu Hadis1, sejarawan2, dan ahli filologi1, As-Suyuthi adalah sebuah fenomena intelektual. Produktivitasnya dalam menulis hampir tidak memiliki tandingan dalam sejarah Islam, dengan jumlah karya yang diperkirakan mencapai ratusan.4
Biografi ini akan menelusuri perjalanan hidup As-Suyuthi secara ketat kronologis, dari seorang anak yatim yang ajaib (prodigy) di Kairo hingga menjadi ulama paling terkenal dan kontroversial di zamannya. Laporan ini akan memetakan dualitas yang mendefinisikan dirinya: seorang sarjana dengan ambisi intelektual yang tak terbatas—yang secara terbuka berdoa di dekat Ka'bah untuk mencapai level tertinggi dalam Fiqh dan Hadis6—sekaligus seorang figur yang sangat sensitif terhadap kritik.1 Dualitas ini pada akhirnya memuncak pada keputusannya untuk melakukan 'uzlah (pengasingan diri) total dari masyarakat, mendedikasikan sisa hidupnya untuk menulis dalam kesendirian.2
Bagian II: Kelahiran, Keluarga, dan Masa Pertumbuhan (849 H / 1445 M)
Nasab, Nama, dan Identitas
Imam As-Suyuthi lahir dengan nama lengkap Abu Al-Fadl 'Abdurrahman bin Kamal al-Din Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiq al-Din, Jalaluddin al-Misri al-Suyuthi al-Shafi'i al-Ash'ari.2 Ia lebih dikenal dengan laqab (julukan kehormatan) Jalaluddin (Kebesaran Agama) dan nisba (julukan berdasarkan asal) Al-Suyuthi. Ia dilahirkan di Kairo, Mesir, pada bulan Rajab 849 H.1 Berbagai sumber Masehi menempatkan tanggal ini antara 3 Oktober 1445 M1 dan 11 Oktober 1445 M.1
Latar belakang keluarganya mencerminkan karakter kosmopolitan Kesultanan Mamluk. Ayahnya berasal dari keturunan Persia1, sementara ibunya adalah seorang Turki2, yang memberinya koneksi ke lingkaran elite Mamluk. Leluhur dari pihak ayahnya dilaporkan berasal dari "al-Khudayriyya" di Baghdad1, sebelum akhirnya pindah ke kota Asyut (Asyut) di Mesir Hulu. Dari kota inilah nisba "Al-Suyuthi" (orang Asyut) berasal.1
Ayah As-Suyuthi, Abu Bakar bin Muhammad (dikenal sebagai Kamal al-Din), bukanlah orang sembarangan. Ia adalah seorang ulama terkemuka, pernah menjabat sebagai Qadi (hakim) di Asyut6, dan merupakan seorang pengajar hukum Syafi'i di Masjid dan Khanqah (pondok Sufi) bergengsi, Shaykhu, di Kairo.1 As-Suyuthi sendiri, dalam otobiografinya, mencatat bahwa di antara para leluhurnya, hanya ayahnya yang "mengabdi sungguh-sungguh terhadap ilmu".15
Masa Kanak-kanak Ajaib dan Status Yatim
Lingkungan akademis yang ideal ini terguncang ketika ayah As-Suyuthi wafat pada malam Senin, 5 Safar 855 H.7 Saat itu, As-Suyuthi baru berusia 5 tahun 7 bulan11, atau "5 atau 6 tahun".1 Sejak saat itu, ia dibesarkan sebagai anak yatim di Kairo.2 Namun, statusnya sebagai "yatim" bukanlah sebuah kisah kemiskinan atau penelantaran. Sebaliknya, ini adalah kisah tentang privilese akademis yang terjamin.
Sebelum wafat, ayahnya yang melihat potensi besar pada putranya telah mengatur masa depan intelektualnya. Ia menunjuk salah satu ulama terbesar pada masa itu, Imam Kamal bin Hammam (Kamal al-Din ibn al-Humam), seorang ahli fiqh Hanafi terkemuka, sebagai wali As-Suyuthi.7 Dengan demikian, As-Suyuthi muda bukanlah orang luar; ia adalah bagian integral dari elite intelektual Kairo sejak lahir. Status yatimnya justru mempercepat integrasinya ke dalam jaringan ulama tertinggi di kota itu.
Kecerdasannya yang luar biasa segera terlihat. Sebelum menginjak usia delapan tahun, As-Suyuthi telah berhasil menghafal seluruh Al-Quran (Hafiz).2 Setelah itu, ia tidak berhenti. Ia langsung melanjutkan dengan menghafal kitab-kitab matan (mutun)—teks-teks dasar keilmuan—yang fundamental, termasuk 'Umdat al-Ahkam (Hadis), Minhaj (Fiqh Syafi'i), Ushul Fiqh karya Ibn al-Subki, dan Alfiyyah Ibn Malik (Tata Bahasa Arab).2 Ayahnya juga diriwayatkan pernah membawanya saat masih balita untuk mendapatkan berkah dari seorang wali besar Mesir, Syekh Muhammad al-Majdzub.6
Julukan "Ibn al-Kutub" (Putra Kitab-Kitab)
Terkait dengan masa kecilnya, muncul julukan yang kelak seolah menubuatkan takdir hidupnya: "Ibn al-Kutub" (Putra Kitab-Kitab).11 Terdapat dua narasi mengenai asal-usul julukan ini. Riwayat populer, yang cenderung bersifat hagiografis, menyebutkan bahwa ayahnya adalah seorang pustakawan atau memiliki perpustakaan besar, dan ibunya melahirkannya tepat di antara tumpukan kitab-kitab.10
Namun, interpretasi yang lebih akademis adalah julukan itu muncul di kemudian hari sebagai pengakuan atas penguasaannya yang fenomenal terhadap literatur Islam dan produktivitasnya yang melampaui batas dalam menulis karya.17 Apa pun asalnya, julukan ini menjadi elemen naratif yang kuat. Hidup As-Suyuthi dimulai di antara buku, dan warisan terbesarnya bagi peradaban adalah buku.
Bagian III: Formasi Intelektual: Rihlah Ilmiah dan Para Guru (Syuyukh)
Memulai Studi Formal dan Jaringan Guru di Kairo
As-Suyuthi mencatat dalam karyanya Husnul Muhaadharah bahwa ia mulai "sibuk dengan ilmu" (belajar secara intensif dan formal) pada awal tahun 864 H.11 Saat itu ia berusia sekitar 15 tahun18, telah dipersenjatai dengan hafalan Al-Quran dan matan-matan dasar. Kairo pada masa itu adalah "universitas" dunia. As-Suyuthi belajar di bawah bimbingan jaringan ulama yang sangat luas. Sumber menyebutkan ia belajar dari sekitar 150 syekh (guru) secara langsung.2 Jika menghitung mereka yang memberinya ijazah (lisensi mengajar) baik secara langsung maupun in absentia, jumlahnya mencapai hampir 600 orang.11
Di antara ratusan gurunya, beberapa figur formatif sangat menonjol:
- Siraj al-Din al-Bulqini (w. 868 H): Guru utamanya dalam Fiqh Syafi'i. As-Suyuthi belajar secara intensif dengannya sampai sang guru wafat.2
- Jalal al-Din al-Mahalli (w. 864 H): Seorang ahli Tafsir dan Ushul Fiqh. Meskipun Al-Mahalli wafat tepat saat As-Suyuthi memulai studi formalnya, pengaruhnya sangat besar, terutama sebagai "rekan" penulisan Tafsir al-Jalalayn di kemudian hari.2
- Sharaf al-Din al-Munawi (w. 871 H): Guru penting dalam bidang Hadis dan Tafsir.2
- Muhyi al-Din al-Kafayji: As-Suyuthi dilaporkan belajar dengannya selama 14 tahun, menunjukkan hubungan murid-guru yang sangat panjang dan mendalam.2
- Taqi'uddin Al-Shumni Al-Hanafi: Walinya (Kamal bin Hammam) adalah seorang Hanafi, dan As-Suyuthi juga belajar Hadis dan Bahasa Arab secara mendalam dari ulama Hanafi ini.9
- Shams al-Din al-Sakhawi: Seorang ahli Hadis terkemuka dan murid utama Ibn Hajar al-'Asqalani. As-Suyuthi belajar darinya12, sebuah fakta yang membuat perseteruan sengit mereka di kemudian hari menjadi lebih pribadi dan pahit.
Pelatihan lintas mazhab ini sangat signifikan. Fakta bahwa walinya15 dan beberapa guru kuncinya (seperti Al-Shumni dan Sayf al-Din Qasim ibn Qatlubagha)2 adalah ulama Hanafi terkemuka—sementara ia adalah seorang Syafi'i yang taat2—memberinya pemahaman metodologis yang mendalam di luar batas-batas mazhabnya sendiri. Pemahaman inilah yang secara langsung menopang kepercayaan dirinya untuk mengklaim tingkatan Mujtahid Muthlaq (yuris independen) di kemudian hari.22
Rihlah Ilmiah dan "Doa Zamzam"
Pada tahun 869 H (sekitar usia 20 tahun), As-Suyuthi melakukan Rihlah Ilmiah (perjalanan mencari ilmu) pertamanya ke luar Kairo, menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji.23 Perjalanan ini menjadi momen psikologis yang krusial dalam hidupnya. Saat berada di Mekkah, ia meminum air Zamzam dan berdoa. Doa-doanya, yang ia catat sendiri, bukanlah doa biasa. Itu adalah deklarasi ambisi intelektual yang luar biasa. Ia berdoa secara spesifik agar (1) dalam bidang Fiqh (hukum Islam), ia bisa mencapai tingkatan Imam Sirajuddin al-Bulqini, dan (2) dalam bidang Hadis, ia bisa mencapai tingkatan Al-Hafiz Ibn Hajar al-'Asqalani.6
Doa ini adalah wawasan kunci untuk memahami psikologi As-Suyuthi. Ini bukanlah doa untuk kesalehan semata, tetapi sebuah doa untuk supremasi intelektual. Dia secara sadar memposisikan dirinya sebagai pewaris dua raksasa keilmuan terbesar dari generasi sebelumnya. Seluruh kariernya di kemudian hari, termasuk klaim-klaimnya yang kontroversial, dapat dipahami sebagai upayanya untuk mewujudkan ambisi yang ia tetapkan di sisi sumur Zamzam itu.
Terkait cakupan perjalanannya, terdapat perbedaan data dalam sumber-sumber.
- Perjalanan yang Terkonfirmasi: Sumber-sumber yang lebih spesifik mencatat Rihlah Hijaziyyah (perjalanan ke Hijaz) pada 869 H dan Rihlah Mishriyyah (perjalanan di Mesir) ke Damietta dan Alexandria pada 870 H.23 Ia juga diketahui menerima ijazah dari para ulama di Halab (Aleppo), Suriah.19
- Perjalanan yang Dilaporkan: Banyak sumber biografi tradisional mendaftar perjalanan yang jauh lebih luas, seolah-olah ia telah mengelilingi dunia Islam. Daftar ini mencakup Suriah (Damaskus), Yaman, India, Maroko, Irak, dan bahkan Takrur (Mali di Afrika Barat).1
Sintesis yang paling mungkin dari dua data ini adalah bahwa daftar yang lebih pendek (Hijaz, Alexandria, Suriah)19 mewakili perjalanan fisik aktual yang ia lakukan untuk belajar. Sementara daftar yang lebih panjang (India, Maroko, dll.)1 kemungkinan besar merujuk pada ijazah yang ia terima in-absentia dari para ulama di wilayah-wilayah jauh tersebut—sebuah praktik umum pada masa itu—atau bisa jadi merupakan pembesaran hagiografis untuk menunjukkan jangkauan keilmuannya yang mendunia.
Bagian IV: Karier Publik: Pengajar, Mufti, dan Administrator (866 H - 889 H)
Kembali di Kairo, karier As-Suyuthi meroket dengan kecepatan yang luar biasa, didorong oleh kecerdasan, pelatihan elite, dan ambisi yang tak kenal lelah.
Awal Karier yang Sangat Cepat
Pada tahun 866 H, di usia yang baru menginjak 17 tahun, ia telah mendapat izin (ijazah) untuk mengajar bahasa Arab.6 Pada tahun yang sama, ia menulis buku pertamanya, Sharh Al-Isti'aadha wal-Basmalah.3 Karya ini mendapat pujian dari Syekh al-Islam Ali Aldeen Albalqeeni.6 Setahun kemudian, pada usia 18 tahun (sekitar 867 H), ia mulai mengajar Fiqh Syafi'i di Masjid Shaykhu, masjid yang sama tempat ayahnya dulu mengajar.1 Ini adalah langkah simbolis yang kuat, menandakan ia telah mengambil jubah ayahnya.
Menjadi Mufti dan Posisi Puncak
Pencapaian puncaknya di usia muda adalah penetapannya sebagai seorang Mufti (ulama yang berwenang memberi fatwa). Ia menerima ijazah untuk mengajar dan memberi fatwa dari guru utamanya, Al-Bulqini.24 Sebuah sumber7 mencatat tahun spesifik pemberian ijazah ini adalah 876 H. Ini berarti As-Suyuthi telah menjadi Mufti resmi pada usia 27 tahun—sebuah pencapaian yang sangat dini bahkan untuk standar masanya. (Sumber lain22 menyebutkan "usia 22 tahun," namun data tahun 876 H7 yang terikat pada seorang guru spesifik24 memiliki bobot historis yang lebih kuat).
Lintasan kariernya yang cepat ini, ditambah dengan klaim-klaimnya yang berani, memicu "kedengkian" dan "kecemburuan" dari rekan-rekannya dan ulama yang lebih senior.1 Ia tidak hanya sukses; ia sukses terlalu cepat dan terlalu terbuka mengenai ambisinya. Selama periode ini, ia memegang beberapa jabatan akademis paling bergengsi di Kairo. Ia menjabat sebagai guru besar Hadis di Madrasa al-Shaykhuniyya1, atas rekomendasi dari walinya, Kamal al-Din ibn al-Humam.2
Puncak karier publiknya terjadi pada tahun 1486 M (sekitar 889 H), ketika Sultan Qaitbay—penguasa Mamluk—mengangkatnya secara pribadi sebagai Syaikh (kepala) di Khanqah Baybars II.1 Ini bukan sekadar posisi akademis; ini adalah jabatan administratif yang didukung negara, menempatkannya sebagai kepala sebuah pondok Sufi besar yang memiliki aset dan pengaruh. Pengangkatan oleh Sultan ini menandakan ia telah beralih dari seorang akademisi murni menjadi seorang administrator yang didukung oleh kekuasaan politik.
Klaim Puncak: Mujtahid dan Mujaddid
Dengan posisinya yang aman, As-Suyuthi secara terbuka mendeklarasikan pencapaian intelektual yang ia yakini telah ia capai. Dia memproklamirkan dirinya telah mencapai tingkatan Mujtahid Muthlaq22—seorang yuris independen yang memiliki kualifikasi untuk melakukan ijtihad (penalaran hukum) langsung dari Al-Quran dan Sunnah, tanpa terikat pada pandangan-pandangan dalam mazhab Syafi'i. Dia juga mengklaim dirinya sebagai Mujaddid (pembaharu) abad ke-9 atau ke-10 H.3
Terdapat klaim dalam satu sumber22 bahwa ia juga mencapai posisi "ketua mahkamah agung" (Qadi al-Qudah). Klaim ini sangat diragukan dan tidak didukung oleh sumber-sumber lain dalam korpus.2 Sumber-sumber tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa ayahnya adalah seorang Qadi6, tetapi karier As-Suyuthi sendiri berpusat pada pengajaran (madrasa) dan spiritualitas (khanqah), bukan yudisial (mahkamah). Sangat mungkin sumber22 salah menafsirkan otoritas fatwa-nya yang besar sebagai otoritas yudisial formal.
Bagian V: Puncak Produktivitas: Analisis Karya-Karya Monumental
Meskipun karier publiknya sibuk dan penuh gejolak, warisan sejati As-Suyuthi dibangun di meja tulisnya. Dia adalah salah satu penulis paling produktif dalam sejarah manusia. Perkiraan jumlah karyanya sangat bervariasi: dari 300 (berdasarkan kutipan dirinya sendiri)6, lebih dari 5005, 6002, hingga lebih dari 700 karya.4 Sebagian besar dari karya-karya ini—yang mencakup hampir setiap disiplin ilmu Islam1—ditulis selama paruh kedua hidupnya, terutama setelah ia mulai menarik diri dari kehidupan publik pada usia 40 tahun.2
Metodologi utamanya, seperti yang dicatat oleh para analis5, adalah "compiler of genius" (penyusun yang jenius) daripada seorang penulis "orisinal" dalam pengertian modern. Karyanya adalah upaya monumental untuk mensintesis, mengumpulkan, mengatur, dan melestarikan seluruh warisan intelektual Islam yang ia warisi. Metodologi inilah yang menjadi sumber dari dua hal yang berlawanan: (1) Keabadian warisannya, karena karyanya menjadi referensi standar; dan (2) Kritik utama terhadapnya pada masanya, yaitu tuduhan plagiarisme.2
Berikut adalah analisis tematik dari karya-karya terbesarnya:
1. Tafsir dan 'Ulumul Qur'an
- Tafsir al-Jalalayn: (Tafsir Dua Jalal). Ini adalah karyanya yang paling terkenal di seluruh dunia Islam.1 Ini adalah proyek kolaboratif yang ia selesaikan. Karyanya dimulai oleh gurunya, Jalal al-Din al-Mahalli (w. 864 H).21 Uniknya, Al-Mahalli memulai penulisan dari bagian kedua Al-Quran (dari Surah Al-Kahfi hingga An-Naas), ditambah Surah Al-Fatihah.28 Setelah Al-Mahalli wafat, As-Suyuthi (Jalal yang kedua) menyelesaikan karya tersebut dengan menulis bagian pertama (dari Surah Al-Baqarah hingga akhir Surah Al-Isra').28 Prestasi ini menjadi lebih menakjubkan karena As-Suyuthi dilaporkan menyelesaikan separuh Al-Quran ini (bagian yang bisa dibilang paling padat secara hukum) hanya dalam waktu 40 hari.2
- Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an: (Karya Presisi dalam Ilmu-Ilmu Al-Qur'an). Ini adalah karya ensiklopedis monumental yang merangkum seluruh disiplin ilmu-ilmu Al-Qur'an (seperti Asbab al-Nuzul, Nasikh-Mansukh, Qira'at, dll.). Hingga hari ini, karya ini dianggap sebagai salah satu teks definitif dan rujukan utama dalam bidangnya.1
- Al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma'thur: (Mutiara yang Tersebar dalam Tafsir Berbasis Riwayat). Sebuah tafsir monumental yang mengumpulkan semua riwayat (Hadis Nabi dan atsar Sahabat) yang berkaitan dengan setiap ayat Al-Quran. Ini adalah contoh sempurna dari metodologi "penyusun" yang ia gunakan.1
2. Hadis dan 'Ulumul Hadis
- Jam' al-Jawami' (juga dikenal sebagai Al-Jami' al-Kabir): Proyek raksasa dan ambisius As-Suyuthi untuk mengumpulkan semua hadis Nabi yang ia bisa temukan.2
- Al-Jami' al-Saghir: (Kumpulan Kecil). Ini adalah ringkasan dari Al-Jami' al-Kabir, yang berisi hadis-hadis pendek dan ringkas, yang membuatnya sangat populer.1
- Tadrib al-Rawi fi Sharh Taqrib al-Nawawi: (Pelatihan bagi Perawi dalam Penjelasan Taqrib al-Nawawi). Ini adalah komentar klasiknya tentang terminologi dan ilmu Hadis (Mustalah al-Hadith), yang didasarkan pada karya Imam Al-Nawawi.2
- Syarh Sunan Ibnu Majah: Sebuah kitab komentar (syarah) atas salah satu dari enam kitab hadis utama, Sunan Ibnu Majah.9
3. Fiqh (Hukum) dan Ushul Fiqh
- Al-Ashbah wa an-Nazhair: (Kesamaan dan Analogi). Sebuah karya master dalam bidang Kaidah-Kaidah Fiqh (Qawa'id Fiqh) dalam mazhab Syafi'i. Karya ini menunjukkan kemampuannya dalam melakukan abstraksi dan menemukan pola-pola universal dalam hukum Islam.9
- Al-Hawi lil Fatawa: (Kumpulan Fatwa). Sebuah koleksi besar yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban-jawaban hukumnya atas berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya.9
4. Sejarah (Tarikh) dan Bahasa (Lughah)
- Tarikh al-Khulafa': (Sejarah Para Khalifah). Sebuah karya sejarah populer yang merinci sejarah para khalifah Islam dari Abu Bakar hingga era Mamluk.5
- Husn al-Muhadarah fi Akhbari Misra wa al-Qahira: Sebuah karya mendalam tentang sejarah Mesir dan Kairo, yang juga memuat otobiografinya.15
- Bughyat al-Wu'ah fi Tabaqat al-Lughawiyyin wa al-Nuhat: Sebuah kamus biografi yang penting bagi para ahli bahasa dan tata bahasa Arab.30
- Al-Ashbah wa an-Nazhair (dalam Nahwu): Menariknya, As-Suyuthi menggunakan judul yang sama persis dengan karya Fiqh-nya untuk sebuah buku tentang tata bahasa Arab (Nahwu).9 Ini bukan kebetulan; ini adalah wawasan brilian tentang arsitektur intelektualnya. Ini menunjukkan bahwa ia memandang Fiqh dan Tata Bahasa bukan sebagai disiplin yang terpisah, tetapi sebagai sistem homolog yang diatur oleh prinsip-prinsip universal yang sama (analogi, preseden, pengecualian), yang semakin memperkuat fondasi bagi klaim Ijtihad-nya.
Bagian VI: Kontroversi, 'Uzlah, dan Periode Akhir Kehidupan (889 H - 911 H)
Paruh kedua kehidupan As-Suyuthi ditandai oleh dua tren yang saling terkait: produktivitas menulis yang meledak dan penarikan diri ('uzlah) secara bertahap dari kehidupan publik, yang didorong oleh konflik-konflik sengit.
Fase Konflik Intelektual: Perseteruan dengan Al-Sakhawi
Konflik paling terkenal pada masanya adalah "pertarungan pena" (battle of the pen) antara As-Suyuthi dan gurunya sendiri, Imam Shams al-Din al-Sakhawi (w. 902 H).20 Al-Sakhawi adalah murid utama dari raksasa hadis Ibn Hajar al-'Asqalani. Pokok-pokok perselisihan mereka sangat fundamental dan pribadi24:
- Plagiarisme: Al-Sakhawi, sebagai pewaris setia Ibn Hajar, secara terbuka menuduh As-Suyuthi telah "mencuri" (sariqah) karya-karya Ibn Hajar dan gurunya yang lain, lalu menerbitkannya atas namanya sendiri.1 Ini adalah kritik langsung terhadap metodologi "penyusun" As-Suyuthi.
- Klaim Ijtihad: As-Suyuthi mengklaim dirinya telah mencapai level Mujtahid.24 Al-Sakhawi, sebagai seorang Muhaddith tradisionalis yang sangat ketat, menolak mentah-mentah klaim ini.
- Melihat Nabi saat Terjaga: As-Suyuthi menulis sebuah risalah (Tanwir Al-Halik) yang berpendapat bahwa secara spiritual mungkin bagi seseorang untuk melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan terjaga. Al-Sakhawi menentang keras pandangan ini.24
- Gaya Penulisan: As-Suyuthi mengkritik balik Al-Sakhawi, menuduhnya menggunakan "bahasa kasar" dan "cercaan" yang tidak pantas dalam buku-buku sejarahnya saat menilai ulama lain.24
Perseteruan ini adalah benturan dua model keilmuan. Al-Sakhawi adalah perwujudan spesialisasi mendalam dalam Hadis (ahli Isnad, Rijal, dan 'Ilal). As-Suyuthi, di sisi lain, adalah seorang polymath generalis yang keilmuannya melintasi banyak bidang, yang menurut pendukungnya, telah melampaui Al-Sakhawi dalam Fiqh, Tafsir, dan Bahasa Arab.24
'Uzlah (Pengasingan Diri): Sebuah Proses Dua Tahap
Data biografi mengenai penarikan diri As-Suyuthi pada awalnya tampak kontradiktif, namun jika disintesis, data tersebut menunjukkan proses 'uzlah yang terjadi dalam dua fase yang berbeda.
Fase 1: 'Uzlah Parsial (sekitar 889 H / 1486 M, usia 40 tahun)
- Pemicu: Sekitar usia 40 tahun2, bertepatan dengan pengangkatannya di Baybarsiyya1 dan memuncaknya konflik intelektual (seperti dengan Al-Sakhawi)24, As-Suyuthi "muak"1 dengan "kedengkian" dan "kecemburuan" rekan-rekannya.1
- Tindakan: Ini adalah penarikan diri parsial yang bersifat pilihan. Dia secara sadar "meninggalkan fatwa"24 dan "menghindari rekan-rekannya seolah-olah dia tidak pernah mengenal mereka".2 Dia pindah dari pusat kota ke taman al-Miqyas yang tenang di tepi Sungai Nil.2 Di sinilah ia memulai fase penulisan paling produktifnya, menukar kewajiban sosial dengan waktu untuk mengarang.2 Dia masih memegang jabatannya di Baybarsiyya, yang digambarkan sebagai "pensiun virtual".5
Fase 2: 'Uzlah Total (Pasc- 907 H / 1501 M)
- Pemicu (Peristiwa Baybarsiyya): Titik balik yang mengakhiri karier publiknya secara permanen terjadi pada tahun 1501 M (907 H).5 Konfliknya berevolusi dari ide (Ijtihad) menjadi uang (tunjangan). Sebagai Syaikh (kepala) di Khanqah Baybars, As-Suyuthi "mencoba mengurangi tunjangan para sarjana Sufi" di kediamannya.5
- Hasil: Keputusan administratif ini memicu "pemberontakan".5 Para ulama dan Sufi lainnya memprotes keras1, dan situasi menjadi sangat panas hingga As-Suyuthi "hampir terbunuh" dalam insiden tersebut.5
- Tindakan: Dia dipecat dari jabatannya.2 Setelah melalui persidangan atau proses hukum, As-Suyuthi secara efektif ditempatkan di bawah tahanan rumah (house arrest).5 Dia dipaksa mengasingkan diri sepenuhnya di kediamannya di Pulau Raudhah (Rawḍah), dekat Kairo.5
Kehidupan dalam Isolasi Total (1501–1505 M)
Empat tahun terakhir hidupnya dihabiskan dalam pengasingan total di rumahnya di Raudhah.5 Ini adalah 'uzlah Fase 2: total, terpaksa, dan didorong oleh motivasi zuhud (asketisme) setelah kekecewaan total pada politik dan intrik akademis.8 Selama periode ini, ia mencapai puncak kezuhudannya. Dia menolak keras hadiah, uang, dan panggilan dari para pangeran dan bahkan Sultan Mamluk saat itu, Al-Ghawri.2 Dalam sebuah riwayat terkenal, ketika utusan Sultan datang membawa hadiah uang, As-Suyuthi menolaknya dan berkata kepada utusan itu: "Jangan pernah kembali kepada kami dengan hadiah, karena sesungguhnya Allah telah mengakhiri semua kebutuhan itu bagi kami.".2
Pengasingan diri ini, yang dimulai sebagai strategi produktivitas (Fase 1) dan berakhir sebagai keharusan politik (Fase 2), adalah kondisi yang memungkinkan lahirnya perpustakaan besar yang ia wariskan.
Bagian VII: Wafat dan Warisan Abadi (911 H / 1505 M)
Penyakit Terakhir dan Wafat
Imam Jalaluddin As-Suyuthi wafat di kediamannya di Pulau Raudhah.35 Menjelang wafat, ia ditimpa penyakit "ganas"35, yang digambarkan sebagai bengkak atau tumor yang parah di lengan kirinya.10 Ia menderita sakit relatif singkat, antara tiga4 hingga tujuh10 hari, sebelum berpulang. Beliau menutup usianya pada malam Jumat (Kamis malam), tanggal 19 Jumadil Ula 911 H.1 Tanggal ini bertepatan dengan 17 Oktober5 atau 18 Oktober 1505 M.1 Ia wafat pada usia 61 tahun 10 bulan10, atau 62 tahun menurut perhitungan kalender Hijriyah (911 H - 849 H = 62 tahun).
Pemakaman dan Tabel Kronologi
Pemakamannya dihadiri oleh banyak orang, menunjukkan rasa hormat yang masih dimiliki masyarakat Kairo padanya, meskipun ia telah lama mengasingkan diri.35 Jenazahnya dishalatkan di Masjid Jami' al-Afariqi4 dan ia dimakamkan di "Husy Qushun" di luar gerbang Bab Qarafah, Kairo.10
Perjalanan hidup yang padat dan kompleks ini dapat diringkas dalam tabel kronologi berikut:
Tabel 1: Kronologi Kunci Kehidupan Imam As-Suyuthi
| Tahun Hijriyah | Tahun Masehi | Usia (Perkiraan) | Peristiwa Kunci | Sumber Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 849 H (Rajab) | 1445 M (Okt) | 0 | Lahir di Kairo. | 1 |
| 855 H (Safar) | 1451 M | 5 thn 7 bln | Ayah wafat; menjadi yatim. Diasuh oleh Kamal bin Hammam. | 1 |
| ~857 H | ~1453 M | 8 | Menghafal Al-Quran. | 2 |
| 864 H | 1459 M | 15 | "Mulai studi formal. (Guru, Al-Mahalli, wafat)." | 11 |
| 866 H | 1461 M | 17-18 | Menulis buku pertama. Mulai mengajar Fiqh. | 1 |
| 869 H | 1464 M | 20 | Melakukan Rihlah ke Hijaz (Haji); berdoa di sumur Zamzam. | 6 |
| 876 H | 1471 M | 27 | Menerima Ijazah Fatwa dari Al-Bulqini. | 7 |
| 889 H | 1486 M | 40 | Diangkat di Khanqah Baybarsiyya. Memulai 'Uzlah Parsial (Fase 1) karena konflik. | 1 |
| 902 H | 1497 M | 53 | Wafatnya rival utamanya, Imam Al-Sakhawi. | 24 |
| 907 H | 1501 M | 58 | Peristiwa pemberontakan di Baybarsiyya; hampir terbunuh. | 5 |
| 907-911 H | 1501-1505 M | 58-62 | 'Uzlah Total (Fase 2) di Raudhah, dimulai sebagai tahanan rumah. | 5 |
| 911 H (J. Ula) | 1505 M (Okt) | 62 | Wafat di Kairo setelah sakit singkat. | 1 |
Warisan Abadi
Imam Jalaluddin As-Suyuthi wafat dalam keadaan terasing dari jabatan publik dan kekuasaan politik yang pernah ia pegang.5 Namun, ia tidak meninggalkan warisan berupa jabatan atau mazhab baru. Warisan utamanya adalah perpustakaan yang ia tulis seorang diri.
Dalam ironi sejarah yang sempurna, As-Suyuthi pada akhirnya berhasil mewujudkan ambisi yang ia panjatkan di sumur Zamzam.6 Meskipun ia dikalahkan dalam intrik politik di Kairo, karya-karyanya—terutama Tafsir al-Jalalayn21, Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an5, dan Al-Ashbah wa an-Nazhair9—melampaui para pesaingnya dan melintasi batas-batas geografis. Karya-karyanya menjadi teks standar yang dipelajari di halaqah (lingkaran studi) dan universitas Islam dari Maroko hingga Indonesia selama berabad-abad setelah kematiannya, mengamankan keabadian intelektual yang sangat ia dambakan. Dia adalah perwujudan terakhir dari ulama ensiklopedis agung era pra-modern.
Daftar Pustaka / Catatan Kaki
- al-Suyuti - Wikipedia, diakses November 13, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Suyuti
- Imam Al-Suyuti: A Biography, diakses November 13, 2025, https://www.imamghazali.org/resources/suyuti-biography
- Hazrat Imam Jalal-ud-Deen Asyuti R.A - Aal-e-Qutub Aal-e-Syed Abdullah Shah Ghazi, diakses November 13, 2025, https://aalequtub.com/hazrat-imam-jalal-ud-deen-asyuti-r-a/
- Biografi Imam As-Suyuti | PDF - Scribd, diakses November 13, 2025, https://id.scribd.com/document/714063973/Biografi-Imam-as-Suyuti
- Al-Suyūṭī | Medieval Scholar, Islamic Theologian, Historian ..., diakses November 13, 2025, https://www.britannica.com/biography/al-Suyuti
- Sayyidina Jalaludeen Al-Suyuti - Mazarat Misr, diakses November 13, 2025, https://mazaratmisr.org/cairo/sayyidina-jalaludeen-al-suyuti/
- Imām Jalāluddin Suyūţi (849-911 AH / 1445-1505 AD) - Sunnah Muakada, diakses November 13, 2025, https://sunnahmuakada.wordpress.com/2013/01/02/imam-jalaluddin-suyuti-849-911-ah-1445-1505-ad-2/
- كتاب جلال الدين السيوطي عصره وحياته وآثاره وجهوده في الدرس اللغوي - العزلة الأخيرة, diakses November 13, 2025, https://shamela.ws/book/37651/114
- Imam Jalaliddin al-Suyuthi - CMS PKH, diakses November 13, 2025, https://cmspkh.com/ahlihadis/imam-jalaliddin-al-suyuthi/
- Imam As-Suyuthi | PDF - Scribd, diakses November 13, 2025, https://www.scribd.com/document/772055429/IMAM-AS-SUYUTHI
- Imaam As-Suyooti - Fatwa - إسلام ويب, diakses November 13, 2025, https://www.islamweb.net/en/fatwa/92394/imaam-as-suyooti
- al-Suyuti Facts for Kids, diakses November 13, 2025, https://kids.kiddle.co/Al-Suyuti
- 2. Imam al-Suyuti (His life) - Shaykh Dr Rafaqat Rashid, diakses November 13, 2025, https://drrafaqat.wordpress.com/2017/09/28/2-imam-al-suyuti-his-life/
- The Life of Imam al-Suyuti | EMAANLIBRARY, diakses November 13, 2025, https://www.emaanlibrary.com/wp-content/uploads/2023/07/The-Life-of-Imam-al-Suyuti.pdf
- Imam As-Suyuthi rahimahullah (w. 911 H) - Abah Aisya - WordPress.com, diakses November 13, 2025, https://abahaisya.wordpress.com/2015/08/22/biografi-imam-as-suyuthi-rahimahullah/
- Al-IMAM JALALAL-DIN AL-SUYUTI [849H-911H] - UM Journal, diakses November 13, 2025, https://ejournal.um.edu.my/index.php/JUD/article/download/3759/1675/9583
- Jalal al-Din al-Suyuti (d. 1505) on the Martyrdom of al-Husayn b. Ali (d. 680) | Ballandalus, diakses November 13, 2025, https://ballandalus.wordpress.com/2014/11/01/jalal-al-din-al-suyuti-d-1505-on-the-martyrdom-of-al-husayn-b-ali-d-680/
- Imam Jalāluddīn al-Suyūtī - A Brief Biography - Islamic Gateway, diakses November 13, 2025, https://islamicgateway.co.uk/imam-jalaluddin-al-suyuti-a-brief-biography/
- Imam al-Suyuti's Teachers - nur.nu, diakses November 13, 2025, https://nur.nu/damas/Bios/bio_suyuti-teachers.html
- Imam al-Suyuti by G. F: Haddad - Damas - Damascus, diakses November 13, 2025, https://damas-original.nur.nu/Texter/bionotes/bio_suyuti-gfh.html
- Tafsir al-Jalalayn - Wikipedia, diakses November 13, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Tafsir_al-Jalalayn
- AS-SUYUTHI; CERDIK CENDIKIA MULTI-FAN KEISLAMAN ..., diakses November 13, 2025, https://cssmora.org/as-suyuthi-cerdik-cendikia-multi-fan-keislaman/
- العالم الموسوعي: جلال الدين السيوطي - الرابطة المحمدية للعلماء, diakses November 13, 2025, https...
- The Battle of the Pen between Imam As-Sakhawi [902H] & Imam As-Suyuti [911H], diakses November 13, 2025, https://www.abuaaliyah.com/2016/12/22/the-battle-of-the-pen-between-imam-as-sakhawi-902-imam-as-suyuti-911h/
- Biografi Imam Suyuthi: Ulama Produktif dengan 600 Karya - Tebuireng Online, diakses November 13, 2025, https://tebuireng.online/biografi-imam-suyuthi-ulama-produktif-dengan-600-karya/
- Category:Books by al-Suyuti - Wikipedia, diakses November 13, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Category:Books_by_al-Suyuti
- T Tafsīr al-Ja alālay yn - Altafsir.com, diakses November 13, 2025, https://www.altafsir.com/Books/Al_Jalalain_Eng.pdf
- Metodologi Tafsir Jalalain | Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Website Resmi, diakses November 13, 2025, https://www.uinjkt.ac.id/id/230750-2/
- Tafsir al-Jalalayn - Buruj Academy, diakses November 13, 2025, https://burujacademy.com/tafsir-al-jalalayn/
- كتب مؤلفات جلال الدين السيوطي - مكتبة نور, diakses November 13, 2025, https...
- Books of Imam Al-Suyuti – Damas Cultural Society, diakses November 13, 2025, https://damas.nur.nu/11304/book/al-suyuti_books
- الجلال السيوطي - المكتبة الشاملة, diakses November 13, 2025, https://shamela.ws/author/7
- Daftar kitab Imam Al-Suyuthi - Perpustakaan Islam Digital, diakses November 13, 2025, https://perpustakaanislamdigital.com/index.php/fp/kitab/1145
- Popular Imam Suyuti Books - Goodreads, diakses November 13, 2025, https://www.goodreads.com/shelf/show/imam-suyuti
- Biografi Singkat Imam As-Suyuthi - Gampong Jeulingke - Pemko Banda Aceh, diakses November 13, 2025, https://jeulingke-gp.bandaacehkota.go.id/2020/11/04/biografi-singkat-imam-as-suyuthi/